Secercah Harapan Pasca Ramadhan
Hari ini terakhir Ramadhan. Hari dimana kaum mukminin ditinggalkan Ramadhan. Kaum mukminin akan segera berjibaku Kembali dengan aktivitas keseharian, yang tentunya tidak sama dengan aktivitas di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, kita diberikan pertolongan oleh Allah untuk mengelola diri, mengenal jasadiah atau jasmani kita. Yang mana jasmani atau jasadiah tersebut sangat berpengaruh besar kepada kehidupan kita sehari-hari. Dia akan berpengaruh kepada mental kita, keinginan kita, bahkan kehidupan kita secara signifikan. Karena tubuh adalah modal dasar kita untuk beraktivitas. Kita diberikan fokus selama bulan Ramadhan ini untuk mengelola jasmani atau badan kita. Jadi, Bulan Ramadhan bukan hanya memindahkan kebiasaan makan, yang tadinya pagi atau siang hari menjadi dua kali, yakni saat sahur (fajar) dan berbuka puasa (matahari terbenam). Lebih dari itu kita akan mengetahui bahwa ternyata selama ini pola makan kita perlu ada perbaikan, kualitas makan kita perlu ditingkatkan. Sehingga kondisi prima dalam tubuh kita ini bisa dirasakan.
Selain berpengaruh kepada tubuh atau jasad kita. Bulan Ramadhan menggiring kita kepada sebuah keadaan bahwa ada fitrah baru yang harus dijalani. Yakni kita berpuasa. Puasa adalah fitrah baru bagi tubuh yang terbiasa dengan makan dan minum. Tetapi di bulan Ramadhan fitrah tersebut (makan dan minum) diatur sedemikian, bahkan dihentikan di siang hari. Fitrah tersebut adalah bagian syari’at Allah yang tercantum dalam Rukun Islam yang lima. Secara sederhana, fitrah berupa makan, minum, bergaul suami istri adalah keinginan manusia dalam menjalani kehidupan, tetapi di bulan Ramadhan hal tersebut dihentikan demi ‘keinginan Allah’ yakni menjalankan syari’at shaum atau puasa.
Keinginan dasar yang ‘dihentikan’ demi mengikuti ‘keinginan Allah’ adalah salah satu simulasi atau pelajaran penting yang Allah berikan kepada orang beriman. Dalam kehidupan yang kita jalani. Hanya ada dua keadaan yang berlaku, yakni bahwa kita akan menghadapi keadaan dimana keinginan kita terpuaskan, bisa terwujud, dan kita akan menghadapi keadaan dimana keinginan kita tidak sesuai atau tidak terwujud. Dari dua keadaan tersebut, dua jalan keluar yang telah Allah siapkan, yakni pada saat keinginan kita terwujud (selaras dengan keinginan Allah) adalah sikap syukur kita yang harus kita ekspresikan. Dan sebaliknya pada saat kaingin kita terhalang atau tidak terwujud (tidak selaras dengan keinginan Allah) maka sikap sabar yang harus kita ambil.
Apabila dengan dua simulasi dasar dari setiap keadaan kehidupan kita, bisa kita sadari setiap saat dengan keadaan yang paling perih, yakni tanpa daya atau kekuatan karena kita dalam keadaan berpuasa, maka tentunya itu menjadi sebuah energi yang cukup bagi kita untuk mengenali keadaan badan atau jasad kita. Sehingga kita tidak lagi ‘bermasalah’ pada saat kita akan berhadapan dengan kekuatan diluar kita, yang akan menjauhkan atau menjerumuskan kita kepada kehancuran. Baik secara fisik atau mental. Bisa dari golongan manusia atau pun dari golongan jin (syetan). Jadi, pertolongan dari Allah kepada setiap mukmin di bulan Ramadhan adalah sangat luar biasa. Dia menolong dari dua sisi, dari luar dan dari dalam.
Dari luar berupa kehebatan jasad kita dalam menghadapi hal paling kritis (kekurangan makanan, kehausan, hawa nafsu) dan kehebatan mental atau spiritual kita dari dalam diri, yang dia akan tetap bertahan pada saat ada gempuran dari luar berupa tipu daya, fitnah, dan hal lainnya yang akan menjadikan manusia lemah. Maka manusia beriman adalah manusia yang akan selalu mawas (bertakwa) dalam segala keadaannya, dia akan tetap bersyukur atas semua nikmat yang diberikan, dan akan berusaha sabar atas semua ujian yang sedang melanda. Oleh karenanya, manusia yang telah berhasil dalam ‘godokan kawah candra dimuka’ bulan Ramadhan, akan senantiasa siap sedia dalam berbagai keadaannya. Dalam kata lain, manusia yang tidak ada mati nya.
Ramadhan akan segera pergi. Meninggalkan manusia-manusia baru hasil pelatihan selama sebulan lamanya. Dia akan sanggup menghadapi kehidupan dalam segala keadaannya, Sedih atau Bahagia, sempit atau lapang, kaya atau cukup, tua atau muda, sehat atau sakit. Dan berbagai keadaan lainnya. Mereka akan senantiasa tau bahwa semuanya akan Kembali kepada suatu kekuatan yang maha dahsyat, yakni kekuatan tunggal, Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan senantiasa menjadi hamba-Nya, akan terus berkhidmat sampai tugas yang diembankan bisa dijalankan sesuai dengan mau-Nya.
Wallahu a’lam bishawab
29 Ramadhan 1446 H
Alfaqir ilallah – Deris Andrian bin Eso Sunarya
Komentar
Posting Komentar